Kamis

Kaltim Post :SA Jaya Kembara Menggarap Album Perdana Bajau Samma


 
04:16:27
Kamis, 27 Oktober 2011
 





LOGIN    |    REGISTER    |    FORGET PASSWORD   
Kaltim Post hari ini >> Palembang - SEA Games Dua Minggu Lagi - DIJAMIN AMAN, KERAHKAN 3.233 APARAT || Samarinda - BISA TEMBUS RP 12 TRILIUN - Biaya Jalan Tol Melintas di Dalam atau Luar Tahura || Tenggarong - "BOLA" TOL MASIH DISTAMBEN || Jakarta - POLRI "MAKAN" DUIT FREEPORT || Tripoli - KABUR, PUTRA KADHAFI EJEK PEMBERONTAK || Samarinda - TANDA TANGAN IRIANTO DIPALSUKAN - Bersaksi di Pengadilan Tipikor << Total Sport >> SAMBUT INTER - Pukul Fiorentina, Juve Kembali Capolista << Selebriti >> Soraya Larasati - PENTINGKAN KARIER DIBANDING IJAZAH <<




 
 
Bagikan berita ini :   
Kamis, 27 Oktober 2011 , 07:43:00

TANAH GROGOT- Satu lagi hasil karya seni musik bernuansa kedaerahan muncul diKabupaten  Paser, yakni album musik perdana bertema “Bajau Samma”. Album yang mengusung jenis musik dangdut house music ini semua lagunya dilantunkan dengan menggunakan bahasa suku Bajau.
Hal itu mendapat perhatian anggota DPRD Paser  HAbdullah  yang memang sangat menggemari seni musik daerah.  Menurutnya,album “Bajau Samma“  garapan SA Jaya ini dapat menghibur pecinta musik daerah. Juga dinilai dapat mengangkat budaya suku Bajau yang saat ini masih kurang diminati di kalangan masyarakat umum. 
“Saya sangat tertarik dengan lagu ini ketika mendengar pertama kali pada suatu acara di Desa Labuangkallo. Liriknya menarik sekali karena menggunakan bahasa daerah suku Bajau. Hal ini tentu dapat mengangkat khasanah budaya suku Bajau, terutama yang ada di Kabupaten Paser “ kataAbdullah  yang terkenal akrab di lingkungan masyarakat pesisir.
Sementara, SA Jaya Kembara penggarap album ini saat ditemui terpisah mengaku, bahwa album perdananya itu digarap selama  kurang lebih 2 tahun di Jakarta dengan menghabiskan dana sekitar Rp125 juta.
“Dana yang cukup besar itu murni dari kantong pribadi saya yang dikumpulkan dari usaha yang selama ini saya geluti, yakni bermain musik,” ujar pria yang kini menetap di Jakarta, tapi selama setahun tinggal di Desa Lori Kecamatan  Tanjung Harapan, Paser.
Menyinggung langkahnya menggarap lagu suku Bajau, SA Jaya Kembara yang beristrikan gadis Tanah Grogot Julie ini mengaku berawal ketika dia melatih anak muda di Desa Lori yang merupakan desa pesisir di Kabupaten Paser.
“Kenapa saya menggarap lagu berbahasa Bajau ini. Karena, meski saya bukan dari suku Bajau, tapi karena saya cukup lama tinggal didaerah pesisir, maka saya terpanggil untuk mengangkat budaya suku Bajau kedalam sebuah alunan musik yang enak untuk didengar,” kata Jaya  Kembara yang mengaku kelahiran NTB.
 Dia berharap dukungan semua pihak, khususnya masyarakat suku Bajau, sehingga album perdana “Bajau Samma” yang diproduksi dengan kualitas standar nasional itu benar-benar sebagai langkah awal untuk menapak masa depan yang lebih baik lagi.
 Tidak hanya itu, Jaya Kembara juga berharap agar albumnya itu mampu menghasilkan karya yang cukup membanggakan bagi  masyarakat suku Bajau  dan diharapkan laguyang ada dalam albumnya itudapat diterima oleh semua kalangan dan dapat meramaikansekaligus memeriahkan belantika  seni musik lagu lagu daerah diIndonesia.  
“Untuk album perdana ini, saya sama sekali belum berpikir bisnis. Bagi saya, antusias masyarakat Paser, PPU dan Kota Baru dalam menyambut kehadiran album “Bajau Samma” sudah memberikan kebahagiaan tersendiri,” katanya yang diwawancarai didampingi istri,  Julie Kembara yang juga sebagai penyanyi dalam album produksi Sri Record itu. (hh/lhl)
 




 

 

   

 

 



 





Kolom Dahlan Iskan

Inikah Kisah Kasih Tak Sampai?

Catatan: Dahlan Iskan MALAM itu saya sudah di ruang tunggu Bandara Soekarno-Hatta Jakarta, siap berangkat ke Amsterdam, Belanda. Tas sudah masuk bagasi. Saya cek lag ...

Other
 
Kolom Zainal Muttaqin

Generasi yang Hilang

Catatan Zainal Muttaqin KE manakah remaja masjid? Pertanyaan itu menyembul di antara sambutan tanpa teks Wali Kota Balikpapan Rizal Effendi, ketika menutup Safari Ra ...

Other
 
Kolom Redaksi

Ketika MK Buka Jalan bagi Kaltim

MELEGAKAN dan menambah semangat. Itulah kesimpulan terhadap sidang pertama di Mahkamah Konstitusi, atas gugatan uji materil (judicial review/JR) Kaltim terhadap bagi has ...

Other
 
Kolom Pembaca

Pasir Tenggarong, Dulu dan Sekarang

CATATAN: SAIFUL ADUAR SAAT ini di kampung saya, Sedulang, Kecamatan Muara Kaman, Kutai Kartanegara (Kukar) sedang “musim proyek”, demikian juga di daera ...

Other
 








Home Utama Balikpapan Samarinda Pro Kaltim Special Nasional Ekonomi Kaltim Rubrik Olahraga Hiburan
Our Network
JAWA - BALI - NUSATENGGARA: Jawa Pos - Rakyat Merdeka - Radar Bogor - Radar Cirebon - Radar Tegal - Lombok Post - Timor Ekspress - Radar Surabaya - Indo Pos - Radar Tasikmalaya - Radar Banten SUMATERA: Batam Pos - Sumatera Ekspres - Palembang Pos - Radar Lampung - Jambi Ekspres - Pekanbaru MX - Rakyat Aceh - Radar Tuba - Radar Palembang - Rakyat Lampung - Radar Lamteng - Radar Lamsel - Radar Tanggamus - Radar Kotabumi - Radar Metro - Rakyat Bengkulu - Jambi Independent - Riau Pos - Pekanbaru Pos - Dumai Pos - Pos Metro Batam - Padang Ekspres - Pos Metro Padang - Sumut Pos KALIMANTAN: Pontianak Post - Equator - Metro Pontianak - Metro Singkawang - Kapuas Post - Kun Tian Ri Bao SULAWESI: Fajar -Palopo Pos - Pare Pos - Ujung Pandang Ekspres - Manado Post - Gorontalo Post - Berita Kota Makassar - Kendari Pos - Kendari Ekspres MALUKU: Malut Post - Ambon Ekspres IRIAN: Cenderawasih Pos - Radar Sorong - Radar Timika MAJALAH:Tabloid Nurani - Oto Trend - Tabloid Nyata NEWS PORTAL: MyRMNews - Sumut Cyber - Riau Today - Batam Cyberzone KALTIMPOST GROUP: Kaltim Post - Radar Banjarmasin - Balikpapan Pos - Samarinda Pos - Radar Tarakan - Kalteng Pos - Radar Sampit - Radar Sulteng RADIO PORTAL: KaPe FM - RT FM

 

Sabtu

Dangdut Menjadi Murahan Saat Bercerai dengan Sastra?

Musik

Jadikan Teman | Kirim Pesan

Hannah Hakim

Ibu penyayang dan pembelajar yang suka filsafat

Dangdut Menjadi Murahan Saat Bercerai dengan Sastra?

HL | 18 October 2011 | 13:40 771 69 4 dari 7 Kompasianer menilai menarik

13189202281494300453
Sejenak saya termangu menjelang menuliskan pengantar konkow sastra dan dangdut. Ada hubungan apa antara sastra dan dangdut di Indonesia? Mengapa dangdut kini identik dengan penyanyi perempuan seksi yang bergoyang tidak sopan? Mengapa juga syair lagu dangdut kini terkesan murahan? Berbeda dengan sastra yang bernilai tinggi namun sukar diraih dan memiliki massa yang elit yang jumlahnya sedikit. Sebelum pelbagai teori melesak masuk, sekilas sebuah peristiwa terkait dengan dangdut menyapa.
Bulan Mei lalu saya menyaksikan pertunjukan dangdut live di atas sebuah feri yang menghubungkan Bekauheni dan Merak. Feri terahir yang melintas ini saya tumpangi selama hampir 3 jam. Selama itu pula 3 penyanyi dangdut menampilkan performa terbaik mereka. Mereka bernyanyi bergantian dan terus bergoyang dengan gaya masing-masing dengan mengharap saweran dari penumpang yang ikut berjoget. Dari ketiga penyanyi tersebut yang menarik buat saya adalah sosok penyanyi dengan pakaian paling rapi. Dia memakai celana panjang pensil hitam dan kaos tangan panjang berwarna hitam yang ketat. Sang penyanyi ini bergoyang dengan goyangan yang teratur dan berirama. Dua penyanyi lain memakai pakaian yang tidak sopan. Super pendek dan ketat dengan gaya joget yang luar biasa binalnya. Saya sebenarnya agak malu melihatnya, namun karena ingin tahu dan sangat tertarik, saya mencoba untuk bertahan di atas dek feri paling atas dan meninggalkan kursi VIP saya untuk melihat fenomena yang baru kali ini saya temui secara dekat dan jelas.
Ternyata dari ketiga penyanyi tersebut, penyanyi berbaju hitam yang saya jagokan ternyata penyanyi yang performanya konsisten dan dapat saweran terbanyak. Dia berjoget begitu berirama dengan suara yang merdu dan menikmati apa yang dia bawakan. Sedangkan dua penyanyi yang lainnya terlihat tersengal-sengal dan goyangannya menjadi tidak karuan. Penikmat ketiga penyanyi dangdut ini sangat beragam. Namun sebagian besar yang menonton adalah penumpang laki-laki kelas ekonomi.
Musik dangdut selalu mendapat apresiasi dengan jumlah massa yang banyak. Setiap lima tahun sekali pada saat pemilu presiden musik dangdut menjadi primadona. Di setiap kampanye musik ini menjadi magnet penarik massa untuk hadir. Namun sayang saat ini performa penyanyi sebagian besar selalu menampilkan gaya berpakaian tidak sopan dan goyang erotis.
Perubahan performa penyanyi dan syair dangdut sebenarnya tidak terjadi dengan sendirinya. Banyak hal yang mengakibatkan dangdut seperti apa yang kita saksikan saat ini. Sejarah dangdut memiliki tempat tersendiri di hati bangsa Indonesia.
Sekilas Sejarah Dangdut
Dalam sejarah dangdut Munif Bahasuan yang dianggap pelopor musik dan maestro dangdut tanah air, mengaku tidak tahu darimana istilah itu berasal. Sebab, ungkapnya, pada 1940-an sudah banyak musik yang lahir berbau dangdut, tetapi belum dinamakan musik dangdut., Munif menyebut lagu Kudaku Lari, yang dilantunkan A Harris pada 1953, sebagai satu di antara lagu pelopor irama yang kelak disebut dangdut ini. Alasannya, lagu itu telah memberanikan diri memasukkan suara gendang ala India pada orkes yang semula hanya memakai gitar, harmonium, bas dan mandolin.
Pada 1950-an, selain ada A Harris, juga ada nama-nama penyanyi dangdut lain, seperti Emma Gangga, Hasnah Thahar, dan Juhana Satar. Tapi, kemudian datang masa ketika supremasi terhadap lagu-lagu berirama Melayu direbut negeri jiran Malaysia.
Popularitas P Ramlee, biduan Malaysia yang mengaku keturunan Aceh, memindahkan kiblat musik Melayu ke negeri itu. Melalui tembang Engkau Laksana Bulan dan Azizah, P Ramlee berjaya tak tersaingi. Apalagi setelah itu ia juga membintangi beberapa film layar lebar. Popularitasnya di Indonesia pun makin subur. Semua yang berbau Ramlee menjadi tren.
Tapi, pada 1960-an, muncullah Said Effendi, yang berhasil mengembalikan supremasi irama Melayu dari Malaysia ke Indonesia. Lewat lagu Bahtera Laju, Said Effendi menempatkan diri sebagai pelantun irama Melayu nomor wahid negeri ini. Ia menyingkirkan popularitas P Ramlee.
Said Effendi memiliki lagu-lagu populer yang diciptakannya sendiri, seperti Bahtera Laju, Timang-timang, dan Fatwa Pujangga, serta lagu karya orang lain, misalnya Semalam di Malaysia (Syaiful Bahri) dan Diambang Sore (Ismail Marzuki).
Ketenaran Said Effendi makin tak tertahan, ketika ia muncul dengan lagu Seroja karya Husein Bawafie. Sukses Seroja menarik minat sutradara Nawi Ismail untuk menokohkan Said Effendi ke dalam film dengan judul yang sama. Setelah itu, sutradara Asrul Sani pun menarik Said Effendi untuk membuat film Titian Serambut Dibelah Tujuh.
Dangdut di awal kemunculannya begitu dekat dengan sastra Indonesia. Syair-syair dangdut banyak diadaptasi dari pantun, gurindam dan sarat dengan nilai budaya ketimuran yang menjunjung tinggi etika.
Dangdut setelah tahun 1970 diramaikan oleh A. Rafiq, Rhoma Irama, Elvy Sukaesih, Mansur S, Mukhsin Alatas, Herlina Effendi, Reynold Panggabean, Camelia Malik, Ida laila. Pada masa ini dangdut semakin berfariasi dengan memasukan unsur lagu lain seperti rock, pop, disko, musik-musik daerah seperti jaipongan, degung, tarling, keroncong, langgam Jawa (dikenal sebagai suatu bentuk musik campur sari yang dinamakan congdut, dengan tokohnya Didi Kempot), atau zapin. Di era ini dangdut menjadi mainstream musik Indonesia.
Masa kejayaan dangdut semakin hari semakin memudar. Meski setelah tahun 1970 bermunculan penyanyi dangdut yang berkualitas seperti Vetty Vera, Nur Halimah, Ikkeu Nurjanah, Kristina, Cici Paramida dan lain-lain, namun dangdut semakin bergeser menjadi musik pinggiran. Hal ini diantaranya diakibatkan oleh performa penyanyi dan gaya panggung yang dianggap tidak sopan serta syair yang semakin hari semakin jauh dari nilai sastra dan adat ketimuran.
Dangdut Menjadi Murahan?
Dangdut saat ini yang identik dengan goyang erotis dan pakaian tidak sopan, sebenarnya tidak terjadi dengan sendirinya. Ada banyak hal yang mengakibatkan dangdut menjadi seperti ini. Menurut perspektif gender, kapitalisme yang kawin mawin dengan patriariki mengakibatkan performa dan gaya penyanyi dangdut merendahkan perempuan. Bagi para kapital, perempuan penyanyi dangdut takubahnya seperti komoditi yang menjanjikan keuntungan besar sehingga perlu dibuatkan struktur jaringan yang kuat untuk ‘memaksa’ mereka agar tampil. Sehingga terjadilah eksploitasi seks perempuan dengan memarginalkan dangdut sebagai sarananya.
Citra perempuan dalam media hiburan saat ini terutama dangdut masih belum lepas dari lima ciitra. Pertama citra Pigura (memikat secara Biologis) bagaimana sensualitas penyanyi dangdut perempuan dimunculkan sedemikian rupa dengan gaya berpakaian seminim dan seseksi mungkin agar menarik perhatian. Sebagai sesuatu yang dianggap pinggiran dan sebelah mata kadang melakukan hal yang berbeda dengan norma yang ada dan citra Pigura ini pada ahirnya yang dipilih dalam setiap pertunjukan dangdut.
Kedua citra Pilar (nyonya /pengelola rumah tangga) seperti lirik lagu Rhoma Irama yang berjudul Emansipasi Wanita “Wanita ditakdirkan yang melahirkan, bukankah ini bukti kelemahan, Wanita adalah ibu manusia. Janganlah bersikap seperti ayah, Lelaki adalah pemimpin wanita, dalam tata kehidupan dunia, Begitulah ketetapan Sang pencipta, Lalu kenapa kau coba merubah, Kalau aturan Tuhan sudah diubah-ubah, Pasti kau akan dapatkan kepincangan, karena kaum wanita banyak yang memenuhi kantoran ahirnya laki-laki jadi pengangguran.” Lirik-lirik bernada seperti ini banyak ditemukan di lagu dangdut.
Ketiga citra Peraduan (seks dan seksualitas) terlihat dalam lirik lagu Keong Racun “Dasar Kau keong racun baru kenal sudah ngajak tidur, ngomong gak sopan santun kau anggap aku ayam kampung……”, Keempat, citra Pinggan (urusan dapur) seperti lirik “Cari istri jangan bingung bingung cari saja seperti saya bisa masak dan cuci pakaian soal dandan gak ketinggalan”. Citra Pergaulan (diruang publik sebagai pendamping/darma wanita) lirik lagu Rhoma Irama “Majulah wanita giatlah bekerja, namun jangan lupa tugasmu utama, Apa pun dirimu, Namun kau ibu rumah tangga”.
Kelima citra ini diamini kalangan Feminis yang melihat dangdut dalam hal ini perempuan penyanyi dangdut pinggiran sebagai perempuan yang dibelenggu oleh kultur patriarki dan bukan sebagai subjek yang memandang dan menyiasati kekuatan-kekuatan dominan dan hagemonik. Padahal negosiasi dan perlawanan senantiasa terjadi dalam dinamika kehidupan mereka. Apakah perempuan yang termarginalkan ini tidak bisa berbicara?
Pengalaman perempuan seperti pelangi. Perempuan kulit berwarna memiliki pengalaman penindasan yang berbeda dengan perempuan kulit putih. Perempuan etnis minoritas berbeda dengan mayoritas. Subaltern dengan dominan. Apalagi kalau kita sadar bahwa selain faktor kultural, faktor ekonomi dan agama pun turut memberi corak yang berbeda bagi pengalaman perempuan. Jadi saat melihat perempuan penyanyi dangdut pinggiran banyak hal yang harus kita pahami tidak sekedar justifikasi atas aksi yang mereka lakukan.
Dangdut saat ini terlihat seperti murahan karena mengikuti pencitraan yang telah di jelaskan di atas yang diakibatkan oleh budaya patriarki dan kapitalisme. Dangdut yang kemunculan awalnya bersenyawa dengan sastra menempati hati mayoritas masyarakat Indonesia. Selain menikmati irama yang mendayu-dayu masyarakat juga dilenakan dengan syair-syair yang indah. Namun saat ini dangdut bercerai dengan sastra, sehingga liriknya menjadi murahan dan tidak jelas. Perceraian ini berakibat buruk pula buat sastra, sastra menjadi sepi peminat. Ia seolah menjadi barang elit yang hanya bisa dijangkau para intelektual semata. Semoga dangdut dan sastra bisa kembali rujuk.
Wallahu’alam
131892040486663481
Tulisan ini merupakan pengantar konkow sastra dan dangdut yang diadakan oleh HMJ Sosiologi, WSC UIN Bandung, HMJ Hubungan Masyarakat, LPM Suaka dll. Hari Senin 17 Oktober 2011di Auditorium UIN Sunan Gunung Djati Bandung