|
|||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
|||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
|||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
|||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
JK PRODUCTION JAKARTA
Kamis
Kaltim Post :SA Jaya Kembara Menggarap Album Perdana Bajau Samma
Sabtu
Dangdut Menjadi Murahan Saat Bercerai dengan Sastra?
Musik
Dangdut Menjadi Murahan Saat Bercerai dengan Sastra?
HL | 18 October 2011 | 13:40
Sejenak
saya termangu menjelang menuliskan pengantar konkow sastra dan dangdut.
Ada hubungan apa antara sastra dan dangdut di Indonesia? Mengapa
dangdut kini identik dengan penyanyi perempuan seksi yang bergoyang
tidak sopan? Mengapa juga syair lagu dangdut kini terkesan murahan?
Berbeda dengan sastra yang bernilai tinggi namun sukar diraih dan
memiliki massa yang elit yang jumlahnya sedikit. Sebelum pelbagai teori
melesak masuk, sekilas sebuah peristiwa terkait dengan dangdut menyapa.
Bulan
Mei lalu saya menyaksikan pertunjukan dangdut live di atas sebuah feri
yang menghubungkan Bekauheni dan Merak. Feri terahir yang melintas ini
saya tumpangi selama hampir 3 jam. Selama itu pula 3 penyanyi dangdut
menampilkan performa terbaik mereka. Mereka bernyanyi bergantian dan
terus bergoyang dengan gaya masing-masing dengan mengharap saweran dari
penumpang yang ikut berjoget. Dari ketiga penyanyi tersebut yang menarik
buat saya adalah sosok penyanyi dengan pakaian paling rapi. Dia memakai
celana panjang pensil hitam dan kaos tangan panjang berwarna hitam yang
ketat. Sang penyanyi ini bergoyang dengan goyangan yang teratur dan
berirama. Dua penyanyi lain memakai pakaian yang tidak sopan. Super
pendek dan ketat dengan gaya joget yang luar biasa binalnya. Saya
sebenarnya agak malu melihatnya, namun karena ingin tahu dan sangat
tertarik, saya mencoba untuk bertahan di atas dek feri paling atas dan
meninggalkan kursi VIP saya untuk melihat fenomena yang baru kali ini
saya temui secara dekat dan jelas.
Ternyata
dari ketiga penyanyi tersebut, penyanyi berbaju hitam yang saya jagokan
ternyata penyanyi yang performanya konsisten dan dapat saweran
terbanyak. Dia berjoget begitu berirama dengan suara yang merdu dan
menikmati apa yang dia bawakan. Sedangkan dua penyanyi yang lainnya
terlihat tersengal-sengal dan goyangannya menjadi tidak karuan. Penikmat
ketiga penyanyi dangdut ini sangat beragam. Namun sebagian besar yang
menonton adalah penumpang laki-laki kelas ekonomi.
Musik
dangdut selalu mendapat apresiasi dengan jumlah massa yang banyak.
Setiap lima tahun sekali pada saat pemilu presiden musik dangdut menjadi
primadona. Di setiap kampanye musik ini menjadi magnet penarik massa
untuk hadir. Namun sayang saat ini performa penyanyi sebagian besar
selalu menampilkan gaya berpakaian tidak sopan dan goyang erotis.
Perubahan
performa penyanyi dan syair dangdut sebenarnya tidak terjadi dengan
sendirinya. Banyak hal yang mengakibatkan dangdut seperti apa yang kita
saksikan saat ini. Sejarah dangdut memiliki tempat tersendiri di hati
bangsa Indonesia.
Sekilas Sejarah Dangdut
Dalam sejarah dangdut Munif
Bahasuan yang dianggap pelopor musik dan maestro dangdut tanah air,
mengaku tidak tahu darimana istilah itu berasal. Sebab, ungkapnya, pada
1940-an sudah banyak musik yang lahir berbau dangdut, tetapi belum
dinamakan musik dangdut., Munif menyebut lagu Kudaku Lari, yang
dilantunkan A Harris pada 1953, sebagai satu di antara lagu pelopor
irama yang kelak disebut dangdut ini. Alasannya, lagu itu telah
memberanikan diri memasukkan suara gendang ala India pada orkes yang
semula hanya memakai gitar, harmonium, bas dan mandolin.
Pada
1950-an, selain ada A Harris, juga ada nama-nama penyanyi dangdut lain,
seperti Emma Gangga, Hasnah Thahar, dan Juhana Satar. Tapi, kemudian
datang masa ketika supremasi terhadap lagu-lagu berirama Melayu direbut
negeri jiran Malaysia.
Popularitas
P Ramlee, biduan Malaysia yang mengaku keturunan Aceh, memindahkan
kiblat musik Melayu ke negeri itu. Melalui tembang Engkau Laksana Bulan
dan Azizah, P Ramlee berjaya tak tersaingi. Apalagi setelah itu ia juga
membintangi beberapa film layar lebar. Popularitasnya di Indonesia pun
makin subur. Semua yang berbau Ramlee menjadi tren.
Tapi,
pada 1960-an, muncullah Said Effendi, yang berhasil mengembalikan
supremasi irama Melayu dari Malaysia ke Indonesia. Lewat lagu Bahtera
Laju, Said Effendi menempatkan diri sebagai pelantun irama Melayu nomor
wahid negeri ini. Ia menyingkirkan popularitas P Ramlee.
Said
Effendi memiliki lagu-lagu populer yang diciptakannya sendiri, seperti
Bahtera Laju, Timang-timang, dan Fatwa Pujangga, serta lagu karya orang
lain, misalnya Semalam di Malaysia (Syaiful Bahri) dan Diambang Sore
(Ismail Marzuki).
Ketenaran
Said Effendi makin tak tertahan, ketika ia muncul dengan lagu Seroja
karya Husein Bawafie. Sukses Seroja menarik minat sutradara Nawi Ismail
untuk menokohkan Said Effendi ke dalam film dengan judul yang sama.
Setelah itu, sutradara Asrul Sani pun menarik Said Effendi untuk membuat
film Titian Serambut Dibelah Tujuh.
Dangdut
di awal kemunculannya begitu dekat dengan sastra Indonesia. Syair-syair
dangdut banyak diadaptasi dari pantun, gurindam dan sarat dengan nilai
budaya ketimuran yang menjunjung tinggi etika.
Dangdut
setelah tahun 1970 diramaikan oleh A. Rafiq, Rhoma Irama, Elvy
Sukaesih, Mansur S, Mukhsin Alatas, Herlina Effendi, Reynold Panggabean,
Camelia Malik, Ida laila. Pada masa ini dangdut semakin berfariasi
dengan memasukan unsur lagu lain seperti rock, pop, disko, musik-musik
daerah seperti jaipongan, degung, tarling, keroncong, langgam Jawa
(dikenal sebagai suatu bentuk musik campur sari yang dinamakan congdut,
dengan tokohnya Didi Kempot), atau zapin. Di era ini dangdut menjadi mainstream musik Indonesia.
Masa
kejayaan dangdut semakin hari semakin memudar. Meski setelah tahun 1970
bermunculan penyanyi dangdut yang berkualitas seperti Vetty Vera, Nur
Halimah, Ikkeu Nurjanah, Kristina, Cici Paramida dan lain-lain, namun
dangdut semakin bergeser menjadi musik pinggiran. Hal ini diantaranya
diakibatkan oleh performa penyanyi dan gaya panggung yang dianggap tidak
sopan serta syair yang semakin hari semakin jauh dari nilai sastra dan
adat ketimuran.
Dangdut Menjadi Murahan?
Dangdut
saat ini yang identik dengan goyang erotis dan pakaian tidak sopan,
sebenarnya tidak terjadi dengan sendirinya. Ada banyak hal yang
mengakibatkan dangdut menjadi seperti ini. Menurut perspektif gender,
kapitalisme yang kawin mawin dengan patriariki mengakibatkan performa
dan gaya penyanyi dangdut merendahkan perempuan. Bagi para kapital,
perempuan penyanyi dangdut takubahnya seperti komoditi yang menjanjikan
keuntungan besar sehingga perlu dibuatkan struktur jaringan yang kuat
untuk ‘memaksa’ mereka agar tampil. Sehingga terjadilah eksploitasi seks
perempuan dengan memarginalkan dangdut sebagai sarananya.
Citra perempuan dalam media hiburan saat ini terutama dangdut masih belum lepas dari lima ciitra. Pertama citra Pigura (memikat secara Biologis) bagaimana sensualitas penyanyi dangdut perempuan dimunculkan
sedemikian rupa dengan gaya berpakaian seminim dan seseksi mungkin agar
menarik perhatian. Sebagai sesuatu yang dianggap pinggiran dan sebelah
mata kadang melakukan hal yang berbeda dengan norma yang ada dan citra
Pigura ini pada ahirnya yang dipilih dalam setiap pertunjukan dangdut.
Kedua
citra Pilar (nyonya /pengelola rumah tangga) seperti lirik lagu Rhoma
Irama yang berjudul Emansipasi Wanita “Wanita ditakdirkan yang
melahirkan, bukankah ini bukti kelemahan, Wanita adalah ibu manusia.
Janganlah bersikap seperti ayah, Lelaki adalah pemimpin wanita, dalam
tata kehidupan dunia, Begitulah ketetapan Sang pencipta, Lalu kenapa kau
coba merubah, Kalau aturan Tuhan sudah diubah-ubah, Pasti kau akan
dapatkan kepincangan, karena kaum wanita banyak yang memenuhi kantoran
ahirnya laki-laki jadi pengangguran.” Lirik-lirik bernada seperti ini
banyak ditemukan di lagu dangdut.
Ketiga citra
Peraduan (seks dan seksualitas) terlihat dalam lirik lagu Keong Racun
“Dasar Kau keong racun baru kenal sudah ngajak tidur, ngomong gak sopan
santun kau anggap aku ayam kampung……”, Keempat, citra
Pinggan (urusan dapur) seperti lirik “Cari istri jangan bingung bingung
cari saja seperti saya bisa masak dan cuci pakaian soal dandan gak
ketinggalan”. Citra Pergaulan (diruang publik sebagai pendamping/darma
wanita) lirik lagu Rhoma Irama “Majulah wanita giatlah bekerja, namun
jangan lupa tugasmu utama, Apa pun dirimu, Namun kau ibu rumah tangga”.
Kelima citra ini diamini kalangan Feminis
yang melihat dangdut dalam hal ini perempuan penyanyi dangdut pinggiran
sebagai perempuan yang dibelenggu oleh kultur patriarki dan bukan
sebagai subjek yang memandang dan menyiasati kekuatan-kekuatan dominan
dan hagemonik. Padahal negosiasi dan perlawanan senantiasa terjadi dalam
dinamika kehidupan mereka. Apakah perempuan yang termarginalkan ini
tidak bisa berbicara?
Pengalaman
perempuan seperti pelangi. Perempuan kulit berwarna memiliki pengalaman
penindasan yang berbeda dengan perempuan kulit putih. Perempuan etnis
minoritas berbeda dengan mayoritas. Subaltern dengan dominan.
Apalagi kalau kita sadar bahwa selain faktor kultural, faktor ekonomi
dan agama pun turut memberi corak yang berbeda bagi pengalaman
perempuan. Jadi saat melihat perempuan penyanyi dangdut pinggiran banyak
hal yang harus kita pahami tidak sekedar justifikasi atas aksi yang
mereka lakukan.
Dangdut
saat ini terlihat seperti murahan karena mengikuti pencitraan yang
telah di jelaskan di atas yang diakibatkan oleh budaya patriarki dan
kapitalisme. Dangdut yang kemunculan awalnya bersenyawa dengan sastra
menempati hati mayoritas masyarakat Indonesia. Selain menikmati irama
yang mendayu-dayu masyarakat juga dilenakan dengan syair-syair yang
indah. Namun saat ini dangdut bercerai dengan sastra, sehingga liriknya
menjadi murahan dan tidak jelas. Perceraian ini berakibat buruk pula
buat sastra, sastra menjadi sepi peminat. Ia seolah menjadi barang elit
yang hanya bisa dijangkau para intelektual semata. Semoga dangdut dan
sastra bisa kembali rujuk.
Wallahu’alam
Langganan:
Postingan (Atom)